Sekitar setahun lalu, aku ngikut temen-temen MP Cabang Kabupaten Bekasi
ngikut mereka latihan ke Pantai Tanjung Pukis, yang ada di Kabupaten
Karawang. Lumayan lah, buat refresing, apa lagi dikasih gratis ama
panitianya.
Ceritanya, untuk ke Tanjung Pukis, dari Bekasi kita lewat
Rengasdengklok. Temen-temen yang mengenyam pendidikan SD dan SLTP di Indonesia pasti
udah pernah mendengarnya bukan? Rengasdengklok, tempat dimana Sukarno
“diamankan” dari pengaruh Jepang menjelang proklamasi.
MasyaAllah…, tempat yang begitu bersejarah bagi bangsa kita ini,
ternyata sungguh memprihatinkan. Banyak rumah-rumah penduduk yang dibuat
semi permanen dan kurang layak huni. Untuk kegiatan MCK banyak dilakukan
di sungai. Bahkan aku sempat lihat sebuah SD yang sudah udzur, mungkin
dimakan usia, mungkin juga digerogoti tikus berdasi.
Jalan-jalan banyak yang rusak parah, penuh debu dan lubang.
Alhamdulillah, jalan-jalan di desaku udah pada keras dan rata, berlapis
aspal.
Menurut temen-temen MP yang udah beberapa kali ke sana, Rengasdengklok
dari tahun ke tahun bukan makin baik,tapi tambah parah.
Dari Rengasdengklok bergeser dikit ke timur, ada Karawang. Kalau ada
yang bilang Rengasdengklok itu udah masuk Karawang,jujur, aku juga belum
tau.
Mungkin semua juga udah pada tau, kalau Karawang adalah lumbung padi
nasional. Kalau di Ponorogo untuk nanem jagung aja kesulitan masalah air,
di sana masih bisa panen padi dengan baik.
Selain itu, di Karawang juga banyak kawasan industri. Tapi jangan tanya
berapa jumlah rumah semi permanen yang tak layak huni di sana. Bisa
capek menghitung.
Jangan tanya pula soal pendidikan. Cukup banyak gedung SD yang rusak,
padahal semua pasti setuju, bila SD adalah dasar pendidikan. Bila SD mendapat fasilitas dan
kualitas pendidikan yang baik, kedepannya juga akan baik. Penduduknya
pun beranggapan bahwa pendidikan adalah nomer sekian, terutama bagi
cewek. Rata-rata mereka cukup sampai SLTP, atau maksimal SLTA dan begitu
SKHUN turun, keterangan ijab sah pun didapat.
Bagi temen-temen warok yang ingin cepet punya “cewek” dateng
aja ke sono, dengan membawa N7610 atau N3230, gak usah yang terbaru,
trus berikan kepada si cewek dihadapan orang tuanya. Yakin dah,75% oleh
orang tua si cewek, cewek tersebut akan dipasrahkan pada temen-temen.
Setelah itu terserah temen-temen dah mau diapain itu cewek.
Aku tidak mau menghina, merendahkan atau bersikap rasialis pada
siapapun. Ini adalah pengalaman pribadi dan pengalaman temen-temenku saat aku
gawe di sono. Kalau aku salah, mohon dikoreksi dan ditegur, aku akan senang menerimanya.
Dari Karawang, melompat ke timur, sampai di Ponorogo ini. Maaf, aku
kurang tau banyak soak Ponorogo tercinta ini, soalnya aku baru
“membuka mata” setelah lulus SMK, dan itupun aku langsung pergi ke
Karawang. Aku baru beberapa bulan ini balik ke Ponorogo, dan itupun sebagian
besar waktuku habis di rumah.
Mungkin, yang menarik adalah saat beberapa waktu yang lalu, aku dan
beberapa orang temen pergi ke Ngebel.
Petugas retribusi yang disiagakan
untuk hari biasa berjumlah 2 orang, kadang aku melihat ada 3. Dengan
sejumlah itu, mereka tidak berani menarik uang retribusi kepada pengunjung
laki-laki, terutama bila berjumlah lebih dari dua orang. Mereka hanya
berani kepada muda-mudi yang datang untuk pacaran atau pada mereka yang
datang bersama keluarga *dalam hal ini anak dan istri*
Sampai di telaga, kita disuguhi pemandangan danau yang mengalami
pendangkalan oleh lumpur dan sampah saat musim kemarau dan banjir saat
penghujan. Disamping itu banyak karamba/kolam apung milik petani yang
dibiarkan rusak dalam telaga tanpa ada upaya pengangkatan atau peremajaan yang
menambah hancur pemandangan.
Adalagi cerita, beberapa saat sebelum puasa kemarin, aku sempet
melakukan survey lokasi untuk penjelajahan anak-anak MHI Jintap ke daerah
Plethuk.
Selama perjalanan dan setelah sampai di sana, aku tidak menjumpai
adanya fasilitas umum a.k.a. mushola atau kamar mandi yang layak.
Walau tidak ada mushola dan kamar mandi, tapi menurut penjaga warung
a.k..a. tempat berteduh a.k.a. tempat “nginep”, kalau malem
minggu banyak pasangan muda-mudi yang kesana.
Aku: Kene wis mulai udan Pak?
Penjaga Warung: Yo sik lagek iki ae kok. Dhek ingi wis mulai nrecih.
A: Pengen ndelok medhon kok wis tutup tho Pak?
PW : Kowe renene kesorean mas, lek rodhok esuk mau yo iso. (Kita sampai
di sana pas sayup-sayup terdengar adzan ashar) Emang arep nyapo tho
mas?
A: Pengen survey lokasi, sok Minggu insya allah arep penjelajahan rene.
PW: Lha iki, sampean kabeh arep nginep kene sampek sok Minggu?
A: Yo ora pak, arep nyapo?
PW: Kene lek malem minggu rame, bocah enom-enom kuwi. Enek sing nginep,
yo enek sing balek.
A: Pasangan-pasangan ngono kuwi?
PW: Iyo, lanang-wedhok lanang-wedhok.
A: Podo nyapo lho pak? Pomo aku nginep ki, opo arep anggar? Lanang
kabeh?!? Ha..ha..ha..
PW: Wis ngerti dhewe lah…
A: Adhoh-Adhoh rene?
PW: Aman…
??????????!!!
“Yo opo rek, pengen k*w*n mlayu neng Plethuk”
Itu adalah penggalan percakapanku dengan penjaga warung yang ada di
sana. Dimana A adalah aku, Alief dan PW adalah penjaga warung. Aku gak nanya siapa
namanya.
Dua tempat di Ponorogo, keduanya tempat “wisata”.
Keduanya tidak terurus, dieksploitasi dan “dikangkangi” oleh
rasa “masa bodoh” dan “ketidakpedulian”.
Ponorogo ini adalah tempat tinggal kita tercinta. Bila rasa masa bodoh
dan ketidakpedulian itu terus dipelihara, tahun-tahun mendatang kita
tidak akan bisa dibandingkan dengan Rengasdengklok, yang terkenal tapi
terlupakan. Tidak bisa dibandingkan dengan Karawang, yang merupakan
perpaduan antara tradisional dan modern yang “hancur”.
Kita akan lebih parah dari itu. Tidak akan ada lagi yang bisa kita
banggakan.


hmmm… no koment
Ya memang betul seharusnya pemerintah memperhatikan dan mengelola obyek wisata terutama alam dg baik,krn itu mrupakan aset daerah yg dpt untuk mensejahtrakan masyarakat.Tuhan yg maha ksh udah mengkaruniai obyek wisata,hanya saja kita kurang bs memanfaatkan dan menjaganya.:)
pernah suatu hari minggu aku ke ngebel, boncengan motor, temen di belakang bawa kameraku, tugasnya memotret semua pasangan mesum di sekitar ngebel. sampai di sumah aku hitung, ada 115 pasangan!!!!
penginepan2 di deket situ kata penjual durian merupakan tempat favorit pasangan selingkuh ataupun pasangan remaja.
kurang bersyukur eemang..
ardhietechno postingan terakhir..Ngabuburit Warga RY (KasKus)
bagus. suwun bung. aku jadi tambah referensi tempat mesum. hehehehe
denologis postingan terakhir..launching minimagz sapulidi
jian tenan kok bocah2 gemblung kuwi….
ngotor2 i pemandangan neng ngebelku ae.eh di tambah maneh pemuda kampung seng sok jago njaluki duwet neng pasangan kuwi(yo mesti di wenehi wong wedi )
ealah masalah makin ruwet
warok_suromenggolo postingan terakhir..telaga ngebel
hoho ngono….
menarik kang… yup tugas kita semua demi ponorogo
*btw kok aku ga diajak investigasi seh
azaxs postingan terakhir..Menang atau Kecolongan?
@semua.., gimana nieh?????
wah berarti kalo ke ngebel mau nginap dihotel gak bisa yah? trus kalo mo liburan ke ngebel bebrapa hari gitu gimana dunk? kalo citranya orang yg menginap dihotel adalah pasti yg gak baik,pantes aja pariwisata gak ada majunya.